FESTIVAL
BUDAYA ASEAN LANGKAH NYATA
MENUJU
KOMUNITAS ASEAN 2015 YANG MEMBUDAYA
Oleh
:
Ni
Luh Putu Eka Juliari
Ni
Kadek Losiani
“Kalau ada sumur di ladang dapat kita
menumpang mandi
Kalau ada umur panjang bisa kita
bertemu lagi
Rasa sayange, rasa sayang sayange
Lihat Ambon dari jauh rasa sayang
sayange
Rasa sayange, rasa sayang sayange
Lihat Ambon dari jauh rasa sayang
sayange”
Masih ingatkah dengan kutipan lagu
di atas? Kutipan lagu tersebut merupakan salah satu lagu rakyat yang secara
turun - temurun dinyanyikan sejak dahulu oleh masyarakat Maluku sebagai
ungkapan rasa sayang mereka terhadap lingkungan serta kehidupan sosial antar
masyarakat. Lagu rasa sayang-sayange
inilah yang sempat menuai kontroversi karena telah di klaim oleh negara lain
di ASEAN.
Tidak hanya kebudayaan dalam bentuk
lagu saja yang pernah di klaim, tetapi masih banyak lagi aset Indonesia yang
diklaim antara lain; kain batik, tari pendet, tari reog ponorogo, tari piring,
naskah kuno Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat, wayang kulit, alat musik
gamelan dan angklung turut menambah daftar kontroversi dalam sejarah Indonesia.
Bahkan negara yang mengklaim kebudayaan Indonesia tidak hanya dari satu negara
melainkan negara-negara dari luar ASEAN turut serta meramaikan kontroversi yang
telah terjadi (Ansori, 2011).
Menanggapi seputar klaim yang
dilakukan oleh negara lain atas beberapa produk kesenian dan budaya Indonesia
yang menjadi isu hangat dan banyak diperbincangkan belakangan ini, Lola Amaria
seorang artis bintang film, sutradara serta produser yang peduli dengan perihal
klaim budaya menanggapi dengan penuh keprihatinan. Berikut adalah tanggapan
Lola Amaria seputar klaim yang dilakukan oleh Malaysia, sebagaimana dikutip
dari harian Suara Pembaruan edisi 26 Agustus 2009.
Sebenarnya klaim-klaim negara lain
itu terjadi karena kesalahan Pemerintah Indonesia sendiri yang kurang preventif
didalam menjaga warisan seni dan budaya bangsa. Kesalahan Pemerintah Indonesia
adalah tidak pernah mematenkan apa pun yang dimiliki oleh bangsa Indonesia
secara turun-temurun. Padahal di dunia Internasional, berlaku hukum tersebut. Seharusnya
dari awal pemerintah sudah memiliki benteng untuk melestarikan budaya nasional
kita (Amaria, 2009).
Kondisi tersebut diperparah lagi
dengan sikap para pemuda khususnya di Indonesia yang semakin hari sudah
“berjarak” dengan kebudayaan di tanah kelahirannya, justru mereka mulai meniru
budaya barat. Budaya barat yang sering dijadikan sebagai trendsetter mayoritas merupakan
kebudayaan yang bertentangan dengan budaya Indonesia sendiri, seperti; free sex, miras, narkoba, budaya clubbing, dan lain-lain. Sehingga budaya
Indonesia kerap kali hanya menjadi bayang-bayang semu yang tidak tentu siapa
yang akan meneruskannya nanti ke anak cucu kita. Banyak yang mengatakan bahwa perlahan-lahan kebudayaan
Indonesia akan kehilangan peminatnya seiring dengan menghilangnya generasi tua Indonesia.
Festival
Budaya ASEAN, Solusi Tepat Bersama Komunitas ASEAN 2015
Pengertian budaya menurut Moran
(2001) adalah cara hidup sekelompok manusia yang terus berubah, terdiri dari
seperangkat praktik yang berkaitan dengan seperangkat produk, didasarkan pada
seperangkat perspektif, dan terjadi pada konteks sosial tertentu. Definisi ini
melihat budaya terbentuk dari lima dimensi yang saling berkaitan yaitu: produk,
praktik, perspektif, masyarakat, dan individu.
Sungguh ironis, jika kebudayaan
Indonesia semakin hari semakin surut. Salah satu solusi yang dapat ditawarkan
adalah promosi budaya melalui Festival Budaya ASEAN. Festival Budaya ini sangat
berperan penting demi keutuhan kebudayaan yang ada di negara komunitas ASEAN. Selain
itu juga sebagai wadah kreativitas pemuda ASEAN untuk meningkatkan pemahaman,
kepedulian, dan partisipasi publik dan kaum muda Indonesia untuk mewujudkan
komunitas ASEAN 2015.
Setiap tempat daerah di Asia
Tenggara pastilah memiliki tradisi untuk memperingati hari atau
peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Diadakannya Festival Budaya dengan
maksud untuk menarik minat masyarakat agar lebih mengenal dan mengetahui berbagai
tradisi budaya yang ada di seluruh negara serta pengenalan budaya-budaya
Indonesia kepada negara komunitas ASEAN.
Dengan adanya Festival Budaya ASEAN
maka dapat bermanfaat untuk meningkatkan daya tarik masyarakat dan wisatawan
lokal, memupuk masyarakat dan wisatawan lokal dengan rasa kecintaan terhadap
kebudayaan bangsa sendiri, serta untuk wisatawan domestik akan lebih mengenal
unsur-unsur seni dan budaya yang ada di daerah Asia Tenggara utamanya untuk negara
komunitas ASEAN.
1001
Keunggulan Festival Budaya ASEAN
Festival Budaya ASEAN dapat
dilaksanakan secara acak bertempat di salah satu negara yang tergabung dalam komunitas
ASEAN. Festival ini dapat dilaksanakan sebanyak satu kali tiap tahunnya. Adapun
kegiatan yang akan dilaksanakan dalam Festival Budaya ASEAN adalah selama 7 hari.
Hari pertama diawali dengan pembukaan yaitu diisi dengan karnaval atau pawai
budaya yang diikuti oleh 10 negara yang tergabung dalam komunitas ASEAN. Pawai
budaya ini bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan berupa tari-tarian, lagu, dan
pakaian adat dari masing-masing negara.
Adanya pawai budaya ini akan
berdampak pada devisa negara di tempat tuan rumah pelaksanaan festival ini
karena dengan adanya pawai budaya maka akan menarik perhatian turis lokal
maupun mancanegara yang ingin menyaksikan secara langsung pawai tersebut. Selain
pada devisa negara, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk lebih memperkenalkan
kebudayaan di tiap negara ASEAN kepada masyarakat internal maupun eksternal
dari komunitas ASEAN. Sehingga salah satu kegiatan promosi budaya ini akan
berdampak pula pada pariwisata ASEAN dan berpotensi besar untuk menarik turis
lokal maupun mancanegara untuk lebih mendalami lagi kebudayaan yang ada di tiap
negara ASEAN termasuk negara Indonesia.
Sedangkan untuk hari kedua dan
ketiga dilakukan suatu diskusi budaya diantara perwakilan masing-masing negara
ASEAN yaitu: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darusalam,
Filippina, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam. Diskusi budaya ini diisi dengan
seminar maupun workshop dari para pakar seni di ASEAN dan mancanegara. Bertempat
di wilayah tuan rumah penyelenggara Festival Budaya ASEAN dan perwakilan dari
masing-masing negara merupakan generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah.
Dengan maksud generasi muda ini yang
akan menjadi perwakilan dari masing-masing
negara untuk menyampaikan hasil diskusi mengenai kebudayaan yang ada di ASEAN
kepada teman-teman di sekolahnya bahkan bisa dijadikan sebagai duta wisata di
negara tersebut untuk lebih memperkenalkan kebudayaan tanah kelahiran mereka
sejak dini. Sehingga diharapkan upaya ini akan lebih membuka mata para generasi
muda untuk menghargai kebudayaan mereka sendiri dan menjadi penerus generasi
selanjutnya supaya kebudayaan yang ada tidak menjadi punah.
Hari keempat diisi dengan games antar negara. Games yang diselenggarakan adalah khusus untuk memperkenalkan
permainan tradisional di tiap negara ASEAN. Senada dengan pernyataan Huizinga
(1983) yang menyatakan bahwa permainan tradisional merupakan awal pertama dan
merupakan suatu kondisi yang perlu bagi lahirnya sebuah kebudayaan. Salah satu
aspek permainan yang amat signifikan (manusiawi dan kultural) adalah kesenangan
(it is fun).
Permainan adalah fungsi manusiawi
paling fundamendal yang melahirkan semua kebudayaan sejak dari awal. Sehingga
dianggap perlu untuk mempopulerkan kembali permainan tradisional masing-masing
negara komunitas ASEAN. Adapun permainan tradisional dari negara Indonesia
yaitu Engklek, Gobak Sodor, Ular Naga dan lain-lain. Negara Thailand seperti Ba
Kang Wo (Spinning Top), Chan-Angkarn
(Monday-Tuesday), Copter Mai Pai (Bamboo Helicopter). Sedangkan untuk negara
Kamboja yaitu Banh Kli (Marble Shooting),
Bei Daok Mouy (Three Minus One), dan
Chak Cheung Muoy (Jumping on One Leg).
Negara Malaysia seperti Bola Beracun (Poison
Ball), Cari Cucu (Search for
Grandchild or Grandmother), dan Iceman (Ice
water) (UNESCO, 2013). Masih banyak lagi permainan tradisional dari negara
komunitas ASEAN lainnya.
Khususnya untuk negara Indonesia,
permainan tradisional yang dapat di tonjolkan yaitu suatu permainan yang
membudaya dan khas dari Indonesia sendiri seperti Gobak Sodor. Hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh Iswinarti (2005) tentang efek terapeutik permainan
tradisional menunjukkan bahwa permainan tradisional Gobak Sodor mengajarkan
anak kebersamaan dan pemecahan masalah. Untuk mengenal permainan tradisional
Gobak Sodor secara lebih mendalam bisa dilihat pada lampiran.
Selain itu, pemilihan permainan
tradisional dianggap tepat karena permainan tradisional lebih mengutamakan
kebersamaan daripada saling mengalahkan serta lebih menekankan pada keasyikan
dalam memainkannya daripada memenangkannya. Keunggulan lain, permainan
tradisional tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan biaya yang harus dikeluarkan
sangat murah (Einon, 2005).
Konsep dari hari keempat yaitu dalam
bentuk pameran games. Ada 10 stand
meja yang diisi dengan masing-masing 1 negara komunitas ASEAN. Di setiap stand akan dipertunjukkan permainan
tradisional dari tiap negara. Permainan tradisional yang dipertontonkan dapat
berupa video, gambar, maupun percobaan langsung. Selain stand juga dipersiapkan suatu lapangan luas yang bisa digunakan
untuk mempraktekkan permainan tradisional berkelompok misalnya dari Indonesia
seperti Gobak Sodor. Permainan ini dapat dimainkan oleh semua usia, sehingga
semua pengunjung pameran games dapat mempraktekkannya secara langsung.
Selain melatih keakraban dengan
negara komunitas ASEAN lainnya, juga berfungsi sebagai media promosi supaya
permainan tradisional tidak punah. Mengingat di era globalisasi seperti
sekarang sudah banyak generasi muda yang lebih melirik permainan modern. Permainan
modern itu sendiri antara lain permainan yang terdapat dalam play station seperti Winning Eleven, Gran Turismo, Devil May Cry,
Harvest Moon, dan lainnya.
Sifat permainan modern adalah
personal, yaitu anak bermain sendiri, tidak berinteraksi sosial dan tidak
terlibat emosional dengan teman-temannya, sehingga menyebabkan perkembangan
jiwa si anak tidak bisa mengerti perasaan orang lain dan tidak mampu melakukan
musyawarah dengan teman lainnya. Sebaliknya, dalam permainan tradisional anak
terlibat secara emosional dengan teman lain, merasa saling membutuhkan,
sehingga akan berkembang menjadi generasi yang penuh tepa selira, bisa mengerti dan memahami perasaan orang lain
(Wahyuni, 2009).
Hari kelima dan keenam merupakan
kunjungan wisata budaya, yaitu mengunjungi tempat pariwisata di daerah tuan
rumah penyelenggara Festival Budaya ASEAN. Kegiatan ini dapat diikuti oleh
masyarakat lokal maupun turis mancanegara yang ingin mengetahui secara langsung
budaya apa saja yang ada di negara penyelenggara pada saat itu. Promosi budaya
ini juga akan bermanfaat bagi negara tuan rumah karena selain kebudayaannya
lebih dikenal oleh masyarakat, juga akan meningkatkan pendapatan penduduk yang
ingin menjual cenderamata, makanan khas daerah maupun barang-barang hasil
kerajinan yang menjadi keunggulan di negara tersebut. Sehingga para seniman
lokal juga memiliki kesempatan untuk lebih maju karena telah dikenal oleh
seniman lainnya di mancanegara.
Hari terakhir diisi dengan performance bersama. Perwakilan dari
tiap negara komunitas ASEAN yaitu
sebanyak 4 sampai 5 orang. Terdiri dari campuran antara kaum generasi muda
maupun seniman di masing-masing negara. Mereka dikumpulkan bersama di satu
tempat kemudian dibentuk kelompok secara acak yang terdiri dari 4 sampai 5
orang dengan negara asal yang berbeda. Misalnya dalam 1 kelompok yang terdiri
dari 5 orang berasal dari negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan
Thailand membuat suatu performance.
Performance
yang dimaksud adalah suatu budaya baru yang dihasilkan dari kebudayaan yang
berbeda di tiap negara. Begitu pula dengan kelompok lainnya juga akan membuat
pertunjukan yang dihasilkan dari pencampuran budaya mereka atau kolaborasi dari
masing-masing kebudayaan mereka. Kemudian setiap performance dipertunjukkan di hadapan kelompok lainnya maupun para
juri, karena performance terbaik akan
mendapatkan reward. Kegiatan ini
bertujuan untuk mempererat hubungan persahabatan dan solidaritas antar negara
di komunitas ASEAN.
Rekomendasi
Bersama Menuju Komunitas ASEAN 2015 yang Membudaya
Dengan diselenggarakannya Festival Budaya ASEAN. Tentunya
akan memberikan imbas kepada masyarakat, baik masyarakat lokal di ASEAN maupun
di mancanegara. Kegiatan ini merupakan kegiatan positif sebagai media penyebarluasan
kebudayaan yang ada di masing-masing negara komunitas ASEAN termasuk Indonesia.
Sehingga klaim budaya tidak akan mencuat kembali karena kebudayaan yang ada
telah diperkenalkan ke khalayak ramai. Adapun beberapa rekomendasi yang dapat
kami tawarkan adalah sebagai berikut :
1. Festival
budaya ASEAN ini dilakukan setahun sekali untuk memperkokoh hubungan antar
negara serta mempertahankan jati diri bangsa Indonesia dalam hal kebudayaan
guna menuju komunitas ASEAN 2015 yang membudaya.
2. Festival
budaya ASEAN diharapkan dapat ditayangkan di stasiun televisi Indonesia agar
masyarakat dapat mengetahui dan ikut menikmati kemegahan acaranya meski tidak
hadir langsung di festival tersebut.
3. Generasi
muda yang ikut serta dalam diskusi festival budaya ASEAN berpotensi menjadi
duta kebudayaan dan dapat menyugesti kerabat terdekat bahkan sampai seluruh
penduduk di negaranya untuk tidak melupakan kebudayaan yang diwariskan dari
leluhur mereka.
Dari pemaparan di atas tersirat
jelas bahwa promosi budaya melalui Festival Budaya ASEAN sangat bermanfaat demi
kelangsungan generasi penerus selanjutnya supaya tidak melupakan kebudayaan di
tanah kelahirannya. Melalui Festival Budaya ASEAN kita ciptakan komunitas ASEAN
2015 yang membudaya. Seyogyanya tulisan ini dapat dijadikan suatu usulan yang
dapat diwujudkan suatu saat nanti khususnya di Asia Tenggara (ASEAN) sehingga kebudayaan
yang ada akan tetap lestari untuk selamanya.






0 komentar:
Posting Komentar