Jumat, 23 Maret 2018

FESTIVAL BUDAYA ASEAN LANGKAH NYATA MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015 YANG MEMBUDAYA


FESTIVAL BUDAYA ASEAN LANGKAH NYATA
MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015 YANG MEMBUDAYA
Oleh :
Ni Luh Putu Eka Juliari
Ni Kadek Losiani

            “Kalau ada sumur di ladang dapat kita menumpang mandi
            Kalau ada umur panjang bisa kita bertemu lagi
            Rasa sayange, rasa sayang sayange
            Lihat Ambon dari jauh rasa sayang sayange
            Rasa sayange, rasa sayang sayange
            Lihat Ambon dari jauh rasa sayang sayange”
            Masih ingatkah dengan kutipan lagu di atas? Kutipan lagu tersebut merupakan salah satu lagu rakyat yang secara turun - temurun dinyanyikan sejak dahulu oleh masyarakat Maluku sebagai ungkapan rasa sayang mereka terhadap lingkungan serta kehidupan sosial antar masyarakat. Lagu rasa sayang-sayange  inilah yang sempat menuai kontroversi karena telah di klaim oleh negara lain di ASEAN.
            Tidak hanya kebudayaan dalam bentuk lagu saja yang pernah di klaim, tetapi masih banyak lagi aset Indonesia yang diklaim antara lain; kain batik, tari pendet, tari reog ponorogo, tari piring, naskah kuno Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat, wayang kulit, alat musik gamelan dan angklung turut menambah daftar kontroversi dalam sejarah Indonesia. Bahkan negara yang mengklaim kebudayaan Indonesia tidak hanya dari satu negara melainkan negara-negara dari luar ASEAN turut serta meramaikan kontroversi yang telah terjadi (Ansori, 2011). 
            Menanggapi seputar klaim yang dilakukan oleh negara lain atas beberapa produk kesenian dan budaya Indonesia yang menjadi isu hangat dan banyak diperbincangkan belakangan ini, Lola Amaria seorang artis bintang film, sutradara serta produser yang peduli dengan perihal klaim budaya menanggapi dengan penuh keprihatinan. Berikut adalah tanggapan Lola Amaria seputar klaim yang dilakukan oleh Malaysia, sebagaimana dikutip dari harian Suara Pembaruan edisi 26 Agustus 2009.
            Sebenarnya klaim-klaim negara lain itu terjadi karena kesalahan Pemerintah Indonesia sendiri yang kurang preventif didalam menjaga warisan seni dan budaya bangsa. Kesalahan Pemerintah Indonesia adalah tidak pernah mematenkan apa pun yang dimiliki oleh bangsa Indonesia secara turun-temurun. Padahal di dunia Internasional, berlaku hukum tersebut. Seharusnya dari awal pemerintah sudah memiliki benteng untuk melestarikan budaya nasional kita (Amaria, 2009).
            Kondisi tersebut diperparah lagi dengan sikap para pemuda khususnya di Indonesia yang semakin hari sudah “berjarak” dengan kebudayaan di tanah kelahirannya, justru mereka mulai meniru budaya barat. Budaya barat yang sering dijadikan sebagai trendsetter mayoritas merupakan kebudayaan yang bertentangan dengan budaya Indonesia sendiri, seperti; free sex, miras, narkoba, budaya clubbing, dan lain-lain. Sehingga budaya Indonesia kerap kali hanya menjadi bayang-bayang semu yang tidak tentu siapa yang akan meneruskannya nanti ke anak cucu kita. Banyak yang mengatakan bahwa perlahan-lahan kebudayaan Indonesia akan kehilangan peminatnya seiring dengan menghilangnya generasi tua Indonesia.

Festival Budaya ASEAN, Solusi Tepat Bersama Komunitas ASEAN 2015
            Pengertian budaya menurut Moran (2001) adalah cara hidup sekelompok manusia yang terus berubah, terdiri dari seperangkat praktik yang berkaitan dengan seperangkat produk, didasarkan pada seperangkat perspektif, dan terjadi pada konteks sosial tertentu. Definisi ini melihat budaya terbentuk dari lima dimensi yang saling berkaitan yaitu: produk, praktik, perspektif, masyarakat, dan individu.
            Sungguh ironis, jika kebudayaan Indonesia semakin hari semakin surut. Salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah promosi budaya melalui Festival Budaya ASEAN. Festival Budaya ini sangat berperan penting demi keutuhan kebudayaan yang ada di negara komunitas ASEAN. Selain itu juga sebagai wadah kreativitas pemuda ASEAN untuk meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan partisipasi publik dan kaum muda Indonesia untuk mewujudkan komunitas ASEAN 2015.
            Setiap tempat daerah di Asia Tenggara pastilah memiliki tradisi untuk memperingati hari atau peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Diadakannya Festival Budaya dengan maksud untuk menarik minat masyarakat agar lebih mengenal dan mengetahui berbagai tradisi budaya yang ada di seluruh negara serta pengenalan budaya-budaya Indonesia kepada negara komunitas ASEAN.
            Dengan adanya Festival Budaya ASEAN maka dapat bermanfaat untuk meningkatkan daya tarik masyarakat dan wisatawan lokal, memupuk masyarakat dan wisatawan lokal dengan rasa kecintaan terhadap kebudayaan bangsa sendiri, serta untuk wisatawan domestik akan lebih mengenal unsur-unsur seni dan budaya yang ada di daerah Asia Tenggara utamanya untuk negara komunitas ASEAN.

1001 Keunggulan Festival Budaya ASEAN
            Festival Budaya ASEAN dapat dilaksanakan secara acak bertempat di salah satu negara yang tergabung dalam komunitas ASEAN. Festival ini dapat dilaksanakan sebanyak satu kali tiap tahunnya. Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan dalam Festival Budaya ASEAN adalah selama 7 hari. Hari pertama diawali dengan pembukaan yaitu diisi dengan karnaval atau pawai budaya yang diikuti oleh 10 negara yang tergabung dalam komunitas ASEAN. Pawai budaya ini bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan berupa tari-tarian, lagu, dan pakaian adat dari masing-masing negara.
            Adanya pawai budaya ini akan berdampak pada devisa negara di tempat tuan rumah pelaksanaan festival ini karena dengan adanya pawai budaya maka akan menarik perhatian turis lokal maupun mancanegara yang ingin menyaksikan secara langsung pawai tersebut. Selain pada devisa negara, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk lebih memperkenalkan kebudayaan di tiap negara ASEAN kepada masyarakat internal maupun eksternal dari komunitas ASEAN. Sehingga salah satu kegiatan promosi budaya ini akan berdampak pula pada pariwisata ASEAN dan berpotensi besar untuk menarik turis lokal maupun mancanegara untuk lebih mendalami lagi kebudayaan yang ada di tiap negara ASEAN termasuk negara Indonesia.
            Sedangkan untuk hari kedua dan ketiga dilakukan suatu diskusi budaya diantara perwakilan masing-masing negara ASEAN yaitu: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darusalam, Filippina, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam. Diskusi budaya ini diisi dengan seminar maupun workshop dari para pakar seni di ASEAN dan mancanegara. Bertempat di wilayah tuan rumah penyelenggara Festival Budaya ASEAN dan perwakilan dari masing-masing negara merupakan generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah.
            Dengan maksud generasi muda ini yang akan menjadi perwakilan dari masing-masing negara untuk menyampaikan hasil diskusi mengenai kebudayaan yang ada di ASEAN kepada teman-teman di sekolahnya bahkan bisa dijadikan sebagai duta wisata di negara tersebut untuk lebih memperkenalkan kebudayaan tanah kelahiran mereka sejak dini. Sehingga diharapkan upaya ini akan lebih membuka mata para generasi muda untuk menghargai kebudayaan mereka sendiri dan menjadi penerus generasi selanjutnya supaya kebudayaan yang ada tidak menjadi punah.
            Hari keempat diisi dengan games antar negara. Games yang diselenggarakan adalah khusus untuk memperkenalkan permainan tradisional di tiap negara ASEAN. Senada dengan pernyataan Huizinga (1983) yang menyatakan bahwa permainan tradisional merupakan awal pertama dan merupakan suatu kondisi yang perlu bagi lahirnya sebuah kebudayaan. Salah satu aspek permainan yang amat signifikan (manusiawi dan kultural) adalah kesenangan (it is fun).
            Permainan adalah fungsi manusiawi paling fundamendal yang melahirkan semua kebudayaan sejak dari awal. Sehingga dianggap perlu untuk mempopulerkan kembali permainan tradisional masing-masing negara komunitas ASEAN. Adapun permainan tradisional dari negara Indonesia yaitu Engklek, Gobak Sodor, Ular Naga dan lain-lain. Negara Thailand seperti Ba Kang Wo (Spinning Top), Chan-Angkarn (Monday-Tuesday), Copter Mai Pai (Bamboo Helicopter). Sedangkan untuk negara Kamboja yaitu Banh Kli (Marble Shooting), Bei Daok Mouy (Three Minus One), dan Chak Cheung Muoy (Jumping on One Leg). Negara Malaysia seperti Bola Beracun (Poison Ball), Cari Cucu (Search for Grandchild or Grandmother), dan Iceman (Ice water) (UNESCO, 2013). Masih banyak lagi permainan tradisional dari negara komunitas ASEAN lainnya.
            Khususnya untuk negara Indonesia, permainan tradisional yang dapat di tonjolkan yaitu suatu permainan yang membudaya dan khas dari Indonesia sendiri seperti Gobak Sodor. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Iswinarti (2005) tentang efek terapeutik permainan tradisional menunjukkan bahwa permainan tradisional Gobak Sodor mengajarkan anak kebersamaan dan pemecahan masalah. Untuk mengenal permainan tradisional Gobak Sodor secara lebih mendalam bisa dilihat pada lampiran.
            Selain itu, pemilihan permainan tradisional dianggap tepat karena permainan tradisional lebih mengutamakan kebersamaan daripada saling mengalahkan serta lebih menekankan pada keasyikan dalam memainkannya daripada memenangkannya. Keunggulan lain, permainan tradisional tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan biaya yang harus dikeluarkan sangat murah (Einon, 2005).
            Konsep dari hari keempat yaitu dalam bentuk pameran games. Ada 10 stand meja yang diisi dengan masing-masing 1 negara komunitas ASEAN. Di setiap stand akan dipertunjukkan permainan tradisional dari tiap negara. Permainan tradisional yang dipertontonkan dapat berupa video, gambar, maupun percobaan langsung. Selain stand juga dipersiapkan suatu lapangan luas yang bisa digunakan untuk mempraktekkan permainan tradisional berkelompok misalnya dari Indonesia seperti Gobak Sodor. Permainan ini dapat dimainkan oleh semua usia, sehingga semua pengunjung pameran games dapat mempraktekkannya secara langsung.
            Selain melatih keakraban dengan negara komunitas ASEAN lainnya, juga berfungsi sebagai media promosi supaya permainan tradisional tidak punah. Mengingat di era globalisasi seperti sekarang sudah banyak generasi muda yang lebih melirik permainan modern. Permainan modern itu sendiri antara lain permainan yang terdapat dalam play station seperti Winning Eleven, Gran Turismo, Devil May Cry, Harvest Moon, dan lainnya.
            Sifat permainan modern adalah personal, yaitu anak bermain sendiri, tidak berinteraksi sosial dan tidak terlibat emosional dengan teman-temannya, sehingga menyebabkan perkembangan jiwa si anak tidak bisa mengerti perasaan orang lain dan tidak mampu melakukan musyawarah dengan teman lainnya. Sebaliknya, dalam permainan tradisional anak terlibat secara emosional dengan teman lain, merasa saling membutuhkan, sehingga akan berkembang menjadi generasi yang penuh tepa selira, bisa mengerti dan memahami perasaan orang lain (Wahyuni, 2009).
            Hari kelima dan keenam merupakan kunjungan wisata budaya, yaitu mengunjungi tempat pariwisata di daerah tuan rumah penyelenggara Festival Budaya ASEAN. Kegiatan ini dapat diikuti oleh masyarakat lokal maupun turis mancanegara yang ingin mengetahui secara langsung budaya apa saja yang ada di negara penyelenggara pada saat itu. Promosi budaya ini juga akan bermanfaat bagi negara tuan rumah karena selain kebudayaannya lebih dikenal oleh masyarakat, juga akan meningkatkan pendapatan penduduk yang ingin menjual cenderamata, makanan khas daerah maupun barang-barang hasil kerajinan yang menjadi keunggulan di negara tersebut. Sehingga para seniman lokal juga memiliki kesempatan untuk lebih maju karena telah dikenal oleh seniman lainnya di mancanegara.
            Hari terakhir diisi dengan performance bersama. Perwakilan dari tiap negara komunitas ASEAN yaitu sebanyak 4 sampai 5 orang. Terdiri dari campuran antara kaum generasi muda maupun seniman di masing-masing negara. Mereka dikumpulkan bersama di satu tempat kemudian dibentuk kelompok secara acak yang terdiri dari 4 sampai 5 orang dengan negara asal yang berbeda. Misalnya dalam 1 kelompok yang terdiri dari 5 orang berasal dari negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand membuat suatu performance.
            Performance yang dimaksud adalah suatu budaya baru yang dihasilkan dari kebudayaan yang berbeda di tiap negara. Begitu pula dengan kelompok lainnya juga akan membuat pertunjukan yang dihasilkan dari pencampuran budaya mereka atau kolaborasi dari masing-masing kebudayaan mereka. Kemudian setiap performance dipertunjukkan di hadapan kelompok lainnya maupun para juri, karena performance terbaik akan mendapatkan reward. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan persahabatan dan solidaritas antar negara di komunitas ASEAN.

Rekomendasi Bersama Menuju Komunitas ASEAN 2015 yang Membudaya
            Dengan diselenggarakannya Festival Budaya ASEAN. Tentunya akan memberikan imbas kepada masyarakat, baik masyarakat lokal di ASEAN maupun di mancanegara. Kegiatan ini merupakan kegiatan positif sebagai media penyebarluasan kebudayaan yang ada di masing-masing negara komunitas ASEAN termasuk Indonesia. Sehingga klaim budaya tidak akan mencuat kembali karena kebudayaan yang ada telah diperkenalkan ke khalayak ramai. Adapun beberapa rekomendasi yang dapat kami tawarkan adalah sebagai berikut :
1.   Festival budaya ASEAN ini dilakukan setahun sekali untuk memperkokoh hubungan antar negara serta mempertahankan jati diri bangsa Indonesia dalam hal kebudayaan guna menuju komunitas ASEAN 2015 yang membudaya.
2. Festival budaya ASEAN diharapkan dapat ditayangkan di stasiun televisi Indonesia agar masyarakat dapat mengetahui dan ikut menikmati kemegahan acaranya meski tidak hadir langsung di festival tersebut.
3. Generasi muda yang ikut serta dalam diskusi festival budaya ASEAN berpotensi menjadi duta kebudayaan dan dapat menyugesti kerabat terdekat bahkan sampai seluruh penduduk di negaranya untuk tidak melupakan kebudayaan yang diwariskan dari leluhur mereka.
Dari pemaparan di atas tersirat jelas bahwa promosi budaya melalui Festival Budaya ASEAN sangat bermanfaat demi kelangsungan generasi penerus selanjutnya supaya tidak melupakan kebudayaan di tanah kelahirannya. Melalui Festival Budaya ASEAN kita ciptakan komunitas ASEAN 2015 yang membudaya. Seyogyanya tulisan ini dapat dijadikan suatu usulan yang dapat diwujudkan suatu saat nanti khususnya di Asia Tenggara (ASEAN) sehingga kebudayaan yang ada akan tetap lestari untuk selamanya.

0 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Posting Komentar