Siapa yang tidak mengenal kata pendidikan?. Menurut
UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Maswins, 2011). Pendidikan
merupakan salah satu sektor yang sangat berharga di dunia terutama di Indonesia.
Namun sektor pendidikan kini kian hari makin terpuruk, kondisi memprihatinkan ini dapat dilihat dari kualitas
pendidikan di Indonesia yang sudah terdeteksi sejak tahun 2000 melalui
penelitian UNESCO tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) di Indonesia
(Analisa, 2012).
Kualitas pendidikan di Indonesia
memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara
lain. Hal ini disebabkan karena efektifitas, efisiensi, dan standardisasi
pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Penyebab lainnya yaitu : 1) Rendahnya
sarana fisik, 2) rendahnya kualitas guru, 3) rendahnya kesejahteraan guru, 4) rendahnya
prestasi siswa, 5) rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, 6) rendahnya
relevansi pendidikan dengan kebutuhan, serta 7) mahalnya biaya pendidikan.
“Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul
untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk
mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak
(TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat kurang mampu secara
finansial tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Oleh sebab itu,
sangat diperlukan bantuan dari berbagai pihak terutama dari pemerintah untuk
mengeluarkan bantuan operasional dana berupa keringanan biaya sekolah bagi
siswa yang kurang mampu. Namun, bantuan dari pemerintah yang sudah terus
mengalir dari SD sampai SMP (program pemerintah wajib sekolah 9 tahun) dirasa
masih kurang mampu untuk menutupi biaya sekolah yang kian hari makin tinggi.
Beruntung saja sebuah perusahaan yang bernama “Data Print”
ikut serta dalam membantu pelajar Indonesia berupa keringanan biaya sekolah
berbentuk beasiswa. Beasiswa ini diperuntukkan bagi pelajar yang berprestasi di
sekolahnya dan dianggap kurang mampu. Jumlah dana yang diberikan pun tidak
tanggung-tanggung dan diperuntukkan bagi 700 pelajar di Indonesia tiap
periodenya. Sehingga bentuk beasiswa ini sangat cukup menjangkau untuk seluruh
pelajar di Indonesia.
Oleh sebab itu Data Print dapat dikatakan sebagai Superhero pendidikan di Indonesia.
Mengingat keikutsertaannya sebagai penyumbang beasiswa untuk pelajar dari SMP
hingga Perguruan Tinggi yang memiliki prestasi serta dianggap kurang mampu.
Diharapkan dengan adanya beasiswa dari Data Print maka penerus bangsa Indonesia
dapat sekolah dengan baik tanpa memikirkan biaya pendidikan yang kian hari
makin tinggi. Terima kasih Data Print, sumbangsihmu sangat berguna bagi kami
pelajar Indonesia.
Sumber :
Maswins. 2011. Pengertian Pendidikan Menurut UU
dan Para Ahli.
http://www.maswins.com/2011/03/pengertian-pendidikan-menurut-uu-dan.html
diakses tanggal 18 Juni 2012.
Analisa. 2012. Ibrahim Sakty
Batubara: Kualitas Pendidikan Indonesia Memprihatinkan. www.analisadaily.com
diakses tanggal 6 Februari 2012.






0 komentar:
Posting Komentar